Arsip Harian: Juni 13th, 2008

Tlah kuucapkan rasa pada mentari yang terbenam

Tlah Kukatakan sayang pada cakrawala malam

Tlah kulantunkan cintaku pada kerlip bintang

Dan kuteriakkan semua pada rembulan yang bersinar

Karna tak sanggup kulakukan itu semua

Padamu

kau baik saja kan di sana?

ya aku baik saja di sini
bila tahu kau bernafas disana
walau aku nyaris mati didalamnya

ya aku baik saja di sini
bila tahu kau bahagia di sana
walau aku sengsara terkungkung rasa

ya aku baik saja di sini
bila tahu kau ada yang menjaga
walau aku bersama hatiku teraniaya

ya aku baik saja di sini
bila tahu kau tak menderita
walau aku … entahlah … tak terkata

Malaikatku
tak lelah mendendang rindu untukmu

kau dimana?

di surgakah kamu?
mengapa malaikat diam ketika ku bertanya tentangmu?

di langitkah dirimu?
mengapa tak kau titipkan peluk cium pada bintang jatuh untukku?

di gunungkah jejakmu?
mengapa tak kirim kabut tuk haturkan kasihmu?

di hutankah ragamu?
mengapa tak ada daun gugur bertuliskan puisi terbang kearahku?

di lautkah jiwamu?
mengapa tak ada debur ombak sampaikan cintamu untukku?

dimana kamu?

Jika hidup di udara adalah niscaya bagi manusia

Aku akan mengudara bersama burung dara

Melambung tinggi bersama elang perkasa

Tidur di awan yang menggumpal tebal

Trus lupa akan kamu

Jika hidup dalam air adalah niscaya bagi manusia

Mengendap aku didasarnya bersama ikan dan ganggang

Berenang, berenang

Sembunyi di balik karang

Agar kau tak temukan aku

Selalu… untuk malaikatku

Lagi…

Aku terbang membawa asa

Anganku melayang menyusuri dunia

Mencarimu

Lagi…

Setiap detik untukmu

Kuharap tiap belaian darimu

Aku

Rindu

Kamu

Malaikat

Tak bisakah kau kepakkan sayap putihmu

Tuk terbang ke angkasa mencariku

Aku terpasung di antara gumpalan awan

Kelabu rindu merundung surya

Malaikatku

Bagaimana mungkin aku hidup tanpamu

Kau bawa nyawaku dalam kelanamu

Kau bawa desahku dalam tualangmu

Kau bawa penggalan ceritaku dalam kisahmu

Kau adalah hembusan angin di gerahku

Kau adalah bunga dalam rangkaianku

Kau adalah syahdu di malamku

Kau adalah aku dalam duniaku

Kau adalah hidup dalam matiku

I.Miss.You

Malaikat…

Aku butuh kamu saat ini

Lebih dari apapun di dunia ini

Lebih dari apapun yang hidup di dunia ini

Lebih dari apapun yang membuatku hidup

Lebih dari udara…

Lebih mantra…

Lebih dari kata…

Lebih dari lebih…

Kursi jonjeng yang butuh penyangga

Aku yang butuh kamu

Hidupkan aku dinyaris matiku

Kulihat langit menguning tapi sebenarnya merah

Lihat, aku buta warna!

Buta!

Entah karena apa?

Ayo kita lari sore!

Lari dari matahari pagi

Dan ikut tenggelam bersama senja

Di barat sana

Oleh-oleh dari Ibu Dewi Sri Wahyuningsih

Sebelum EAP benar-benar usai

“ijinkan aku pergi sejenak
untuk mencari sepasang sayapku yang hilang”

dan dengarlah janji sang pria,
“aku akan kembali dengan terbang”

“sabarlah menanti
karena ku tak bisa pastikan terbenamnya matahari”

katakan pada tuhanmu
“sang pria sedang berkelana
mencari penentram hati
dan pelindung raga
dari rakusnya jiwa”

“jagalah dia dari segala mara bahaya
hingga kembalinya adalah suka cita dan cinta”

Ada yang gundah malam ini

Entah mengapa tadi pagi

Matahari tak bernafsu menguasai hari

Dia tergugu sendiri

Seolah tak ada yang peduli

Aku membantunya melipat awan

Agar dia tak kelelahan

Hujan dengan ramah menyapa

Sedang dingin menemani dengan setia

Yah, mungkin para malaikat

Sedang malas berada disini

Malaikat…

Andai rinduku dapat berucap

Tentu bosan kau mendengarnya

Andai rinduku dapat terbang

Entah ke bumbungan mana lagi dia kan melayang

Andai rinduku bisa tenggelam

Palung Paling dalam pun terdasarkan

Andai rinduku bisa bernyanyi

Entah nada apa lagi yang belum terbunyi

Andai rinduku adalah lautan

Maka bumi tak kan ada hamparan daratan

Andai rinduku turun bagaikan hujan

Musnahlah kemarau seumur hidup ini

Rinduku berlari mengelilingi bumi

Dan kulukis dengan pelangi di kanvas hati

Rindu ini seakan memenjarakan hatiku

Meremukan seluruh tulang-tulangku

Hingga tak disisakan sedikit saja untuk ku hidup

Mematikan

Dan aku benar-benar mati

Dan biarlah jika hanya dengan itu aku bebas untuk bertemu dengan mu

Jangan Merintih Pujangga Malam!

Gelap bukanlah lawan

Yang menjeratmu dalam keputusan bimbang

Gelap adalah keajaiban

Memberikan kebebasan
Yang tak ditawarkan oleh sang fajar

Ada apa di matahari?

Sehingga kau perlu berlari mencari

Cukupkah ia untukmu?..

Atau sebenarnya kau hanya sembunyi dari gelap dirimu

Kau kejar fajar seolah dia berlari menjauh

Kau siksa diri merasa tak ada yang peduli